Text
Burung Kakatua/Lepate Manue Laka/The Parrot/ الببغاء
Konon, di pedalaman pulau Nusa Ina, hiduplah sepasang suami istri. Mereka adalah Ina dan Ama. Mereka mewarisi wilayah pegunungan Pulau Seram. Bertahun-tahun mereka hidup dan menjaga wilayah Nusa Ina. Pada suatu hari, saat sinar matahari terik, setelah pulang berburu, Ama mendekati Pohon Daun Seribu yang tumbuh rimbun di tengah hutan. Ia bermimpi tentang seekor burung raksasa, berbulu putih dan berparuh hitam berbicara padanya. “Wahai Ama, penjaga hutan Nusa Ina. Janganlah kau musnahkan kami! Mengapa kau memiliki niat yang jahat kepada kami? Kamu menangkap lalu menjual kami kepada pedagang-pedagang di luar pulau ini. Kami juga penjaga dan pewaris hutan ini,” tegur si Burung. Suatu hari, Ama berencana untuk pergi berburu ke pedalaman hutan. Ia hendak mencari burung raksasa yang ditemuinya dalam mimpi beberapa tahun lalu. Sore itu hujan gerimis membasahi ladangnya. Derik Tonggeret saling bersahutan dari balik pepohonan yang rimbun yang tumbuh di sekeliling kebun. Sementara di dalam walang, si Kaka terus menangis mencari ibunya. Tangisannya pecah di tengah kebun. Ina tidak menghiraukan tangisan anaknya. Sang burung raksasa pun datang dan menjumpai Kaka. Burung raksasa membuat sayap dari kakoya dan mengajak Kaka terbang. Burung raksasa dan Kaka pun terbang di atas kebun untuk mencari Ina.
Tidak tersedia versi lain