Text
Bau dan Uman=Bangau dan Kelomang
Pada zaman dahulu kala, tepatnya di Desa Airnanang, ujung timur Pulau Seram. Hiduplah seekor Bangau dan seekor Kelomang. Bau pun tertawa terbahak-bahak dengan nada megejek karena jalannya lambat. Oleh karena merasa direndahkan, Uman menantang Bau berlomba menjelajah dari desa Airnanang ke Desa Kilga. Siapa yang sampai duluan dialah pemenangnya. Uman sangat menyadari situasi yang dihadapinya yang tentu saja dia akan kalah jika berlomba adu cepat dengan Bau. Tiba-tiba, kelomang menemukan ide. Karena punya banyak teman, dia kumpulkan semua temannya, lalu saya tanyakan ide mereka semua. Malam pun tiba. Uman mengumpulkan perwakilan kelomang dari desa Airnanang sampai desa Kilga. Sontak seekor kelomang yang paling kecil berdiri dan menyampaikan idenya. Bagaimana kalau kita semua sepakat jika pada lomba nanti, ketika si Bau tiba di tempat kita dan menanyakan apakah Uman sudah tiba di tempat kita, semua harus menjawab kalau Uman sudah tiba duluan dan sudah berjalan menuju desa sebelah. Si Uman setuju mendengar ide itu. Keesokan harinya, tibalah pada hari perlombaan. Bau dan Uman bersiap untuk mulai menjelajah. Hitungan ketiga, tanda dimulai perlombaan. Sekuat tenaga si Bau mulai terbang menuju desa sebelah untuk mengecek apakah Uman sudah tiba di sana. Tibalah di desa pertama, Bau hinggap di atas ranting Pohon Pala lalu bertanya kepada teman-teman Uman. Apakah Uman sudah tiba di sini?” tanya si bau. Mereka langsung menjalankan rencananya, Uman sudah duluan di sini dan sekarang menuju desa sebelah. Sampai dibeberapa desa selanjutnya,rencana tetap berjalan dengan lancer. Si Bau kaget dan dibuat heran. Tak mau ketinggalan, Bau sekuat tenaga mengepakkan kedua sayapnya supaya lebih cepat sampai di desa sebelah. Bau lelah terus terbang dari desa ke desa untuk mengikuti si Uman dan terus bertanya, tetapi jawaban yang d terimanya tetap sama seperti di desa-desa sebelumnya. Hingga tibalah di desa terakhir yaitu desa Kilga. Hinggaplah Bau di atas batu besar sambil bertanya kepada para kelomang yang duduk di bawah akar pohon, denagn jawaban yang sama, Uman sudah lebih awal sampai. Oleh karena merasa kalau dirinya kalah, Bau pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di atas sebuah batu. Dia lelah dan kehabisan tenaga karena terbang menempuh perjalanan yang jauh. Akhirnya, si Bau pun mati di atas batu besar itu. Sehingga yang menjadi pemenangnya ialah Si Uman. Sampai saat ini, masyarakat lokal menamai batu itu Watu Bau (Batu Bangau).
Tidak tersedia versi lain