Text
Matua’a te Manu Sama=Kakek dan Burung Camar
Pada zaman dahulu di sebuah desa kecil di belahan timur, ada seorang kakek yang hidup Sebatang kara. Pekerjaannya mencari kayu bakar di hutan dan menjualnya di pasar. Pada suatu hari, dalam perjalanan pergi ke hutan mencari kayu bakar, dari kejauhan Kakek melihat sesuatu yang tergeletak di tanah. Ternyata, itu seekor Burung Camar yang tergeletak di atas tanah dan tertindih ranting pohon. Kakek akhirnya mengurungkan niatnya mencari kayu bakar dan kembali ke rumah untuk mengobati Burung Camar yang terluka. Setelah dua hari berlalu, perlahan-lahan luka Burung Camar mulai mengering. Setelah luka burung camar sudah benar-benar sembuh, Kakek pun melepas Burung Camar kembali ke alam bebas. Tak lama Burung Camar pergi, Kakek kembali melanjutkan pekerjaannya mencari kayu bakar di hutan. Namun, tak sesuai dengan harapan. Persediaan kayu bakar di hutan mulai menipis. Kakek kembali ke rumah dengan lesu tanpa membawa satu pun kayu bakar untuk dijual. Keesokan harinya setelah bangun dari tidurnya, Kakek bagitu kaget melihat banyak makanan enak di atas meja makan. Kakek bertanya-tanya ini milik siapa. Kakek terdiam sambil menunggu seseorang menjawab pertanyaannya. Setelah beberapa menit menunggu, tak ada yang menjawab. Kakek pun memutuskan untuk memakannya saja. Saat akan berangkat, kakek kaget melihat sesuatu yang indah di atas mesin jahit di pojok rumahnya. Kakek benar-benar kaget dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, selembar kain sutra yang bagitu cantik dan anggun. Kakek kebingungan sambil mencari keberadaan orang yang meletakan kain sutra di rumahnya. Saat kakek masih kebingungan, tiba-tiba ada yang menjawabnya bingungnya. Ternyata, Burung Camar membuat makanan dan menenun kain sutra pada malam hari saat kakek sedang tertidur pulas. Kakek begitu kaget karena yang memberikan semua itu adalah Burung Camar yang pernah ia tolong. Akhirnya Kakek pergi ke pasar untuk menjualnya. Kain sutra laku terjual dengan harga yang cukup mahal. Sebelum kembali ke rumah, Kakek membeli banyak barang untuk keperluannya di rumah. Saat hendak kembali tiba-tiba ada yang memanggilnya dari arah belakang. Kakek menoleh ke arah sumber suara.Ternyata itu adalah pengawal kerajaan, yang diperintah Raja untuk memanggil sang kakek. Sesampainya dihadapan sang Raja. Rajapun bertanya kepada sang kakek terkait kasin sutra. Sang Raja ingin dibuatkan kain sutra unyuk kelima permaisuriku. Sang Raja akan membayarmu dua kali lipat dari penjualan. Tanpa berpikir panjang, Kakek menyetujui permintaan sang raja. Tiba di rumah, Kakek berbicara dengan Burung Camar tentang kejadian yang dialaminya tadi dan meminta bantuan Burung Camar. Beberapa hari terus berlalu, setiap harinya Burung Camar selalu menyiapkan makanan untuk si Kakek dan membuat kain sutra permintaan sang Raja, sedangkan si Kakek tetap bekerja mencari kayu bakar di hutan. Kini tibalah si Kakek mengantarkan kain sutra terakhir untuk sang Raja.Sang raja memberikan uang dan beberapa koin emas untuk si Kakek. Kakek tua kemudian kembali ke rumahnya dengan perasaan senang. Tak lama Burung Camar pamit karena tugasku telah selesai membantu sang Kakek karena telah merawatnya saat sang burung terluka. Burung berpesan, nikmatilah hari tuamu dengan tenang. Kakekpun berterima kasih kepada camar atas kebaikanmu untukku. Setelah itu, burung camar terbang tinggi meninggalkan si Kakek.
Tidak tersedia versi lain