Text
Spit wa Ama=Spit untuk Ayah
Matahari dengan semangat menyinari kampung Morella pada pagi hari. Seorang anak bernama Alfonso, saat melihat cuaca yang ramah, memutuskan untuk berkunjung ke bengkel kakek pada hari liburnya itu. Ketika ingin melanjutkan perjalanannya ke bengkel kakek, Alfonso ingat bahwa ia ingin menanyakan sesuatu kepada ayahnya. Ayah Alfonso adalah seorang petani tambak. Ia bekerja di tambak ikan di laut kampung Morella. Ayahnya adalah seorang pekerja yang sangat giat. Setelah melihat transportasi ayahnya, Alfonso mulai memikirkan cara agar ayahnya mau menggunakan spit, sembari berjalan ke bengkel milik kakeknya. Kakek Alfonso adalah mekanik mesin kapal. Alfonso juga meminta bantuan kepada Bapa BOngso untuk meyakinkan ayahnya untuk memakai spit. Ketika sampai di bengkel milik kakek, Alfonso, Bapa Bongso, dan Kakek pun menunggu kedatangan ayah Alfonso. Pada sore hari, ayah Alfonso pun kembali dari tambak, tempat dia bekerja. “Bagaimana pendapatmu tentang mengganti perahumu dengan spit?” tanya Bapa Bongso dengan pelan. Ayah Alfonso yang tadinya merasa pensaran dan ingin mendengar alasan kedatangan Bapa Bongso memasang wajah lelahnya kembali setelah mendengar pertanyaan Bapa Bongso. Ayahnya tetap tidak mau mengendarai teknologi semacam itu, yang hanya akan membuat kebiasaan orang tua kita makin lama makin MEMUDAR!” tegasnya. Pakailah spit dan pulanglah lebih cepat, agar kau bisa menemani anakmu saat mengerjakan tugas maupun menceritakan kegiatan hariannya, lanjut kakek Alfonso. Akan tetapi, setelah mendengar penjelasan ayah dan tetangganya, ayah Alfonso masih tidak berkutik dari pendapatnya. Setelah melihat respon ayah Alfonso yang masih memilih untuk tidak mengatakan apapun, Bapa Bongso pun menyarankan sesuatu. Ketika mendengar saran dari Alfonso dan tetangganya itu, ayah Alfonso mulai merenung sambil mengalihkan pandangannya ke arah Alfonso. Akhirnya dengan bantuan Bapa Bongso dan kakek, Alfonso dapat meyakinkan ayahnya untuk memakai spit milik Bapa Bongso. Karena hal tersebut, ayahnya pun mau mencba. Keesokan harinya, seperti biasa Alfonso menemani ayahnya ke dermaga, tempat ayahnya biasa berangkat kerja. Bapa Bongso pun menjelaskan sambil mempraktikkan cara menyalakan dan mengendarai spit. Ternyata mereka tiba lebih cepat jika menggunakan spit tetangganya itu daripada dengan perahu semang miliknya. Akan ku pakai karna lebih cepat pakai spit ke tambak dari pada perahu semang. Alfonso ikut senang akan hal itu. Sejak saat itu, waktu pergi ayah lebih cepat sehingga lebih banyak waktu yang diluangkan untuk mengajarkan Alfonso cara membawa perahu semang. Alfonso yang tadinya merupakan anak yang sulit mengutarakan perasaannya, sekarang mulai membuka diri kepada orang lain.
Tidak tersedia versi lain