Dahulu kala di Pulau Tanimbar, orang tidak mengenakan baju dan celana. Mereka mengambil kulit kayu untuk dijadikan cawat untuk menutupi aurat. Rumah-rumah pun belum ada. Mereka hanya membuat pondok kecil untuk tidur. Jarak satu pondok dengan pondok yang lain pun tidak dekat seperti sekarang. Salah seorang di antara para pria itu bernama Akenama. Dia tinggal bersama seorang saudara perempuan. I…
Pada zaman dahulu kala, di sebuah kampung di pesisir Pulau Dullah, tiga perempuan pergi ke hutan untuk mencari sayur-sayuran dan buah kenari. Ada tiga perempuan kampung yang ke hutan itu adalah Nen Ked, Nen Ted, dan Nen Med. Mereka bertiga menuju hutan untuk mencari buah-buahan. Karena Hujan mereka berteduh di dalam Gua. Sambil berteduh mereka melakukan perjanjian jika ada salah satu dari merek…
Dahulu kala, ada sebuah desa yang bernama Desa Matine, sekarang dikenal dengan nama Desa Makatian. Di desa itu, hiduplah sebuah keluarga yang terdiri atas ayah, ibu, dan seorang anak perempuan yang bernama Hangoryenan. Hangoryen diperintahkan oleh ibunya untuk tidak ke loteng Menurut tradisi orang tua zaman itu, anak perempuan dilarang keras untuk naik ke loteng rumah. Karena lalai mengabaikan …
Buku ini merupakan prosiding pelaksanaan Seminar Internasional yang diselenggarakan Kantor Bahasa Provinsi Maluku pada tahun 2020. Prosiding ini berisikan 28 makalah yang telah dipaparkan pada saat pelaksanaan seminar dan disunting kembali oleh pemakalah dan panitia.
Buku berjudul Pemali Tanjung Hatuhuran: Simbolisasi Eksistensi diri Kekinian Orang Hatusua ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang ada di Kantor Bahasa Maluku. Buku ini menyampaikan tentang penelitian di sebuah lokasi di Negeri Hatusua yang dikenal dengan nama di Tanjung Hatuhuran dan dijadikan pemali oleh masyarakat di Pulau Seram khususnya dan masyarakat Maluku umumny…
La Hudani dan Seekor Ikan Kembung=Lahudani Mai Isa Lema=La Hudani and the Puffer Fish= لا هداني و سمك النفخ adalah produk cerita yang berasal dari Maluku. Dengan empat jenis bahasa